Oleh: Hotben Lingga
Bandung, Suarakristem.com.
“Umat Kristen, para pemimpin Gereja dan pelayan Tuhan, harus terus dan tetap menjaga kerukunan antar umat beragama dalam pelayanan dan kesaksiannya. Semangat kerukunan, kebersamaan, gotong-royong dan solidaritas antar umat beragama harus terus dipupuk dan dikembangkan agar pelayanan dan kesaksian kita di tengah-tengah masyarakat dan bangsa semakin efektif dan akseptebel. Gereja-gereja dan para pemimpin umat juga perlu meningkatkan pelayanan dan partisipasi sosial, semakin terlibat aktif dalam pembangunan bangsa dan pembangunan nasional, sehingga kehadiran dan kesaksian kita bisa menjadi garam, terang dan teladan dalam kehidupan sosal-masyarakat Indonesia”demikian disampaikan Dirjen Bimas Kristen Protestan Kementerian Agama RI, Dr.Oditha R. Hutabarat, dalam Sidang Raya XIV Gereja Gerakan Pentakosta (GGP), di Bandung (21/9/15)
Ungkap Dr. Oditha Hutabarat lebih lanjut,”Tantangan dan persoalan kehidupan umat manusia semakin pelik. Krisis dan problem kemanusian dari waktu ke waktu bertambah kompleks. Terjadi proses dehumanisasi di sana-sini. Globalisasi membuat banyak orang termajinalkan, mengalami krisis identitas, krisis orientasi, krisis sosial, ekonomi, budaya dan spiritual. Untuk menghadapi krisis-krisis tersebut, Gereja-gereja harus mampu meningkatkan kualitas SDM umat. Organisasi gereja perlu dimajukan dan dibesarkan. Dan kerja-sama atau sinergi antar gereja harus diintensifkan, agar Gereja-gereja dan umat mampu dan siap menghadapi tantangan-tantangan global saat ini”.
Sementara itu, Sekum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, dalam kata sambutannya pada Sidang Raya GGP tersebut menyampaikan harapannya agar GGP menjadi gereja yang mampu menjadi pembaharu di tengah tantangan gerakan oikoumene dan di tengah pergumulan bangsa Indonesia.”Salah satu tugas pokok Gereja adalah menjadi pembaharu sosial. Dengan semangat ‘Ecclesia Reformata semper Reformanda” (Gereja yang membaharui (masyarakat) adalah Gereja yang membaharui diri) sebagaimana yang dicetuskan para Reformator Gereja; Gereja gereja, khususnya GGP, diharapkan mampu menjadi agen-agen, duta-duta Allah dalam kehidupan sosial sehari-hari. Unuk menghadirkan damai, kabar baik, harmoni sosial dan keadilan sosial. Kita harus berkarya, bersaksi dan bersekutu dengan jiwa dan semangat keugaharian dan gotong-royong ‘tegas Pdt. Gomar Gultom.
Sidang Raya GGP XIV 2015 mengambil tema, “Tuhan Memperbaharui Hati dan Rohmu” berdasarkan Nats Alkitab dari Yehezkiel 11:19 & 36:26.
Mengenai pilihan tema Sidang Raya GGP, Pendeta Gomar Gultom mengatakan ini sungguh suatu pilihan yang tepat. Dikatakannya, “Kita ada dalam arak-arakan menjadi gereja yang ekumenis, namun pada saat yang sama adalah evangelical, pentakostal dan juga Am. Hal ini hanya mungkin bila kita berada dalam kerendahan hati untuk dibaharui oleh Tuhan. ”
“Kalau kita mau membaharui masyakarat Indonesia, kalau kita mau membaharui gereja, pertama-tama kita harus bersedia membaharui diri. Bila GGP mau hadir sebagai pembaharu, mari undang Roh Kudus untuk membarahui hati dan roh Kita,” tegas Pendeta Gomar Gultom dengan penuh semangat.
Mengutup surat Rasus Paulus kepada jemaat di Roma, “Pembaharuan budi itulah yang berkenan kepadaNya dan itulah ibadah yang sejati, Kiranya .. membarui kita semua, untuk ada dalam pembaharuan ini yang pada gilirannya kita akan hadir membaharui bangsa ini
Tari dan dialog budaya Sunda mengawali pembukaan Sidang Sinode GGP XIV 2015 di Bandung, 21-24 September 2015.
Ketua Umum GGP Pendeta Drs. Harsanto Adi Soekamto dalam sambutan menyatakan selain tema Sidang Raya, juga ada subtema, yakni “Peliharalah Kesatuan Roh dalam Pelayananmu kepada Umat dan Masyarakat.” Menurut Pendeta Harsanto, hidup bersama umat dan masyarakat pada dasarnya merupakan hakikat gereja itu sendiri, sebab hakikat gereja adalah persaudaraan cinta kasih seperti yang dicerminkan oleh hidup umat perdana. Gereja harus terus membangun semangat persekutuan, kasih dan persaudaraan. Gereja harus mengekspresikan iman, kasih, dan pengharapan yang otentik di dalam masyarakat.
“Dalam hidup bersama umat dan masyarakat, semua orang merasa menghayati martabat yang sama dan bertanggung jawab secara aktif dalam fungsinya masing-masing untuk membangun gereja dan bangsa dan memberi kesaksian kepada dunia,” demikian kata sambutan Pendeta Harsanto.
Lanjutnya, Sidang Raya GGP ini merupakan pesta iman dan forum pengambilan keputusan yang paling berwenang. Untuk itu Majelis Pusat mempersiapkan materi sebaik-baiknya. Majelis Pusat GGP juga telah berusaha membangun sistem yang lebih baik melalui tim penjaringan calon Pengurus Pusat. Dengan demikian diharapkan GGP akan memiliki sumberdaya manusia yang siap dan mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan pelayanan kedepan.
Sementara itu, Ketua Panitia SR GGP XIV, Pdm. Dr. Nathan Madutujuh, dalam kata sambutannya menyatakan, SR GGP XIV diikuti oleh sekitar 600 utusan/peserta, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.Sangat besar harapan umat dan jemaat agar Sidang Raya ini dapat menyatukan dan mensinergikan semua potensi GGP yang ada. SR GGP ini diharapkan mampu menghasilkan kepemimpinan baru yang visioner, misioner dan manunggal.
Dalam Sidang Raya ini, Pdt. Welly Mamusung terpilih sebagai Ketua Umum GGP periode 2015-2020.
Posting Komentar untuk "Dari SR Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) XIV: Gereja-gereja Harus Terus Mengembangkan Kerukunan dan Solidaritas Antar Umat Beragama"